project

Musim proyek telah tiba. Seperti biasa, pekerjaan akan disibukkan dengan pengawasan, pembuatan bobot pekerjaan, pembuatan termin, menghadapi tukang yang kadang nggak ngerti gambar, pemborong yang pinpinbo (pintar-pintar bodoh) yang tahunya termin cair, PPTK yang ikutan maksa untuk ngatrol bobot, karena udah terima uang duluan, pemeriksaan Inspektorat yang minta pekerjaan sesuai spesifikasi RAB, pekerjaan yang molor nggak selesai-selesai, dan seabgreg masalah yang selalu sama tiap tahun.

Sulit mengharapkan kualitas bangunan yang baik, tiap tahun mutunya sama saja. Jangankan sampai 50 th kekuatan bangunan yang diharapkan, baru 5 bulan aja sudah harus direhab sana sini. Semuanya bagai lingkaran setan. Kontraktor berasalan uang yang diterima tidak sesuai dengan apa yang ada di RAB, harus bayar fee bupati, kepala dinas, uang keamanan, uang partisipasi, belum lagi ada “gandolan” yang lebih kerennya disebut konsorsium, intinya 1 proyek di kerjakan lebih dari 1 kontraktor, celakanya yang kerja akhirnya tetap satu yang lainnya cuma ambil fee nya juga. Jadi potongan dari nilai RAB sudah tinggal sekitar 60%. Bagaimana menuntut bangunan hasilnya berkualitas 100% kalau uang yg diterima cuma 60% itu belum keuntungan pemborong loh.

Ujung-ujungnya pengawas yang jadi sasaran, terlalu menekan kontraktor bekerja sesuai RAB akan dimusuhi  kontraktor, tidak ditekan, pengawas yang jadi bulan bulanan pemeriksaan BPK dan Inspektorat, sedang Kepala Dinas nya bisa berlindung dibalik staf yang jadi pengawas, padahal yang dapat uang fee beliau-beliau juga.

Mungkin sudah saatnya uang-uang fee ditiadakan. Dilakukan tender bebas dalam pengadaannya jadi kontraktor yang berkualitas aja yang dapat kerjaan. Tapi biaya ikut pilkada kemarin kan nggak sedikit, kalo mengandalkan gaji 5 tahun nggak kira nutup. Belum lagi tim sukses juga minta jatah proyek. Huh.. bener-bener lingkaran, setan !!!