Semakin hari semakin banyak saja pohonpohon dipinggir jalan yang berdaun vinyl, bergambar orang penuh senyuman dengan menyertakan nama yang dicentang.

Angkutan kota juga tak luput dari stiker sepenuh kaca belakang dengan isi yang tak jauh beda, pun jokjok abang becak tak ketinggalan. Sepertinya wajah kota semakin hari isinya penuh dengan baliho, stiker, selebaran, spanduk yang isinya fotofoto orang yang tidak kukenal. Melempar senyum, mengobral janji, nyo’on pangesto, yang intinya sama, centang nama saya.

Beberapa hari yang lalu, kompas melansir tentang biaya iklan politik selama 2008 mencapai 2,2 triliun, fiuh… bisa sebutkan dengan tepat berapa angka nol-nya? Angka yang bukan hanya cukup, tapi sangat besar. Dan akan mencapai puncaknya pada kuartal pertama tahun ini. Konon seorang caleg sudah menganggarkan uang 5 milyar untuk 2009. Padahal ada berapa ribu caleg yang akan berkompetisi mengais suara nantinya. Bayangkan bila uang itu untuk membangun jalan, jembatan, sekolah, puskesmas atau panti asuhan. Betapa sangat besar manfaatnya daripada hanya untuk memperkenalkan diri saja.

Tentu masyarakat bisa bertanya. Dari manakah semua uang itu? Atau setelah menghabiskan sedemikian banyak uang, apakah tidak terbersit di pikiran mereka, harapan mendapatkan gantinya plus bunga?