Pagi-pagi setelah apel, sudah dapat sepucuk surat warna coklat dengan kop Polda Jatim Resor Sampang. Surat apalagi ini.., ternyata surat panggilan sebagai saksi untuk dugaan tindak pidana korupsi pada proyek pembangunan. Wuih serem banget, siapa yang korupsi nih??? kok tiba-tiba jadi saksi. Sudah dua kali ini, aku melihat surat panggilan kepolisian. Sebelumnya beberapa waktu lalu istriku juga dapat surat serupa, dengan dugaan serupa tapi dalam pengadaan barang dan jasa. Hampir 3 jam aku nungguin di polres, karena istriku nggak siap mental sendirian. Eh.. sekarang aku sendiri yang diundang Kasat Reskrim.

Sepertinya sudah menjadi hal yang biasa, PNS yang diberi tugas untuk menjadi pengawas lapangan/PTP, panitia pengadaan, dan lain-lain yang berhubungan dengan uang akan selalu bersinggungan dengan masalah hukum. Padahal beban tugas itu tak satupun yang merupakan permintaan dari staf yang ditunjuk. Kebanyakan karena SK tugas dari kantor. Apabila boleh memilih pasti nggak akan ada yang mau diberi beban tugas tersebut, karena ongkos mental tak pernah tercover dalam honorarium sebagai pengawas maupun panitia pengadaan BJ yang tak seberapa. Bekerja dengan benar saja masih diperiksa apalagi menyalagunakan wewenang.

project

Musim proyek telah tiba. Seperti biasa, pekerjaan akan disibukkan dengan pengawasan, pembuatan bobot pekerjaan, pembuatan termin, menghadapi tukang yang kadang nggak ngerti gambar, pemborong yang pinpinbo (pintar-pintar bodoh) yang tahunya termin cair, PPTK yang ikutan maksa untuk ngatrol bobot, karena udah terima uang duluan, pemeriksaan Inspektorat yang minta pekerjaan sesuai spesifikasi RAB, pekerjaan yang molor nggak selesai-selesai, dan seabgreg masalah yang selalu sama tiap tahun.

Sulit mengharapkan kualitas bangunan yang baik, tiap tahun mutunya sama saja. Jangankan sampai 50 th kekuatan bangunan yang diharapkan, baru 5 bulan aja sudah harus direhab sana sini. Semuanya bagai lingkaran setan. Kontraktor berasalan uang yang diterima tidak sesuai dengan apa yang ada di RAB, harus bayar fee bupati, kepala dinas, uang keamanan, uang partisipasi, belum lagi ada “gandolan” yang lebih kerennya disebut konsorsium, intinya 1 proyek di kerjakan lebih dari 1 kontraktor, celakanya yang kerja akhirnya tetap satu yang lainnya cuma ambil fee nya juga. Jadi potongan dari nilai RAB sudah tinggal sekitar 60%. Bagaimana menuntut bangunan hasilnya berkualitas 100% kalau uang yg diterima cuma 60% itu belum keuntungan pemborong loh.

Ujung-ujungnya pengawas yang jadi sasaran, terlalu menekan kontraktor bekerja sesuai RAB akan dimusuhi  kontraktor, tidak ditekan, pengawas yang jadi bulan bulanan pemeriksaan BPK dan Inspektorat, sedang Kepala Dinas nya bisa berlindung dibalik staf yang jadi pengawas, padahal yang dapat uang fee beliau-beliau juga.

Mungkin sudah saatnya uang-uang fee ditiadakan. Dilakukan tender bebas dalam pengadaannya jadi kontraktor yang berkualitas aja yang dapat kerjaan. Tapi biaya ikut pilkada kemarin kan nggak sedikit, kalo mengandalkan gaji 5 tahun nggak kira nutup. Belum lagi tim sukses juga minta jatah proyek. Huh.. bener-bener lingkaran, setan !!!

Semoga Bangsa ini menjadi Bangsa yang besar dan terus maju

merdeka

Kemarin, berarti minggu tgl 16/08/09 aku dapat tugas survey ke pulau mandangin, pulau kecil dan padat penduduk yang ada di sebelah selatan kota sampang. Setelah 1 jam perjalanan pake kapal motor, (masih tradisional) sampai juga akhirnya ke lokasi. Dengan kepala yang sedikit pening, ombaknya lumayan bikin pusing.

Sampai lokasi setelah melakukan cek gambar dan bangunan, akhirnya saat yang ditunggu-tunggu datang, makan siang khas pulau mandangin. Pesta seafood…, ehm yummy… kayaknya beras lebih mahal disini dibanding lauknya.

Jam 12 kami kembali pulang dengan perut yang sudah kenyang. Saat di kapal langsung tidur, daripada pusing kayak berangkatnya :-)

dermaga mandangin

pesisir mandangin

Ketika era fotografi digital mulai semakin murah dan kualitasnya semakin baik. Segera fotografi manual dengan mengunakan film negative semakin ditinggalkan. Dengan segala kemudahannya, tanpa perlu memikirkan lagi diafragma, kecepatan, dan pencahayaan semuanya langsung bisa mempelajari kamera hanya dalam waktu semenit bahkan kurang. Tinggal arahkan lensa ke obyek, semua bekerja otomatis, tidak perlu lagi takut gambar nggak fokus, under atau over expose, apalagi hasilnya nanti masih bisa di edit lewat komputer. Foto-foto yang tercetak adalah benar-benar foto yang terpilih, bayangkan dulu harus meneliti film di atas lampu neon untuk memilih foto-foto yang bagus, itupun belum tentu hasilnya memuaskan. Tentu biaya belajar fotografi masa lalu cukup menguras kantong.

Sekarang, ingin sekali kembali memainkan kamera digital secara manual, tentu sangat menyenangkan. Apalagi melihat hasil foto yang dihasilkan oleh kamera-kamera canggih itu begitu mempesonakan. Mungkin sudah saatnya mengganti kamera pocket digital dengan kamera SLR digital ini, semoga ada rejeki untuk mewujudkan..

Nikon D3X

Effective pixels 24.5 million
Image sensor CMOS sensor, 35.9 x 24.0 mm; Nikon FX format; total pixels: 25.72 million
Image size (pixels) FX format (36 x 24): 6,048 x 4,032 [L], 4,544 x 3,024 [M], 3,024 x 2,016 [S]
DX format (24 x 16): 3,968 x 2,640 [L], 2,976 x 1,976 [M], 1,984 x 1,320 [S]
5:4 (30 x 24): 5,056 x 4,032 [L], 3,792 x 3,024 [M], 2,528 x 2,016 [S]
Sensitivity ISO 100 to 1600 in steps of 1/3, 1/2, or 1 EV; can be set to approx. 0.3, 0.5, 0.7, or 1 EV (ISO 50 equivalent) below ISO 100, or to approx. 0.3, 0.5, 0.7, 1, or 2 EV (ISO 6400 equivalent) over ISO 1600

IMG_3363 Hari selasa, 16 Juni 2009. Kita mengunjungi Observatorium Bosscha di Lembang-Bandung. Masih dalam rangkaian Bimtek-LAPAN. Disana kami ditunjukkan cara kerja teleskop terbesar di Indonesia itu dengan berbagai informasinya. Selain itu kita juga belajar menggunakan GPS yang sebelumnya diberikan teorinya di Kantor LAPAN. Selama sekitar 2 jam kami berkeliling kompleks Bosscha. Setelah itu acara dilanjutkan jalan-jalan ke kota Bandung. Ke Factory Outlet di sekitar jalan Riau dan ke Cihampelas. Maklum orang desa ke kota banyak yang nitip minta dibelikan oleh-oleh, padahal uang saku cuma pas-pasan. Paling tidak untuk istri dan anak-anak sudah dibelikan yang lainnya jadi tidak wajib… hehehe kecuali nitip uang sebelum berangkat.

in front of teleskop

teleskop

di depan satelit

Selama tanggal 8-19 Juni 2009 aku mengikuti bimtek “Pengolahan dan Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh untuk Pembuatan Basis Data Spasial Kab. Sampang” Kerja sama antara LAPAN (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional) dengan Pemkab. Sampang.

Disini aku diajarkan tentang Remote Sensing (penginderaan jauh) atau dalam teorinya disebut ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah yg dikaji.

Jadi disini kami mengolah hasil citra satelit dari low resolution sampai high resolution. Foto citra satelit itu kemudian diolah dengan software ER-Mapper dan Arc View untuk menghasilkan peta dan data yang memberi informasi sesuai kebutuhan.

Belajar ER-Mapper dan Arc View bukanlah hal yang mudah dengan waktu yang sangat terbatas itu. Apalagi tanpa pengetahuan ilmu geografi dan teori teori yang mendasar tentang penginderaan jauh. Jadi banyak hal yang masih lupa-lupa ingat untuk menjalankan program tersebut. Tanpa bimbingan dan latihan lebih lanjut tentu akan sulit untuk menerapkan ilmu itu sesampai di kantor. Apalagi kemampuan komputer yang ada di kantor berbeda dengan komputer yang digunakan disini.

3623377941_707419b24b_m

DSC06113

my little angels

my little angels

Mecca dan Medina semakin tumbuh, bagaikan sepasang kuncup melati yang masih diselimuti embun pagi. Kedua anak kembarku yang menjadi sumber segala kebahagiaan dan kerinduan. Setiap hari tak pernah reda dari senda gurau, teriakan dan juga tawa yang berderai. Tak pernah henti berlari-larian dan berebut mainan. Sebentar saling berceloteh dengan bahasa bahasa aneh, kadang kumengerti kadang sulit dipahami.

Alhamdulillah ya Allah,… Kau berikan aku amanah keindahan-Mu. Semoga aku mampu menjaganya sampai saat mekarnya tiba.

gerbang kota

gerbang kota

Bekerja di bidang tata ruang, membuatku harus mengetahui semua sudut sudut kota ini. Untungnya sudutnya nggak banyak hehehe,… kota ini memang tidak terlalu besar dibandingkan kota kota lain yang ada di madura. Tetapi tetap saja sebuah kota selalu punya keunikan dan kekhasan masing-masing.  Di selasela pekerjaan tentang tata ruang, ada beberapa rekaman tempattempat yang berpengaruh di kota ini. Seperti Monumen, Pelabuhan Tanglok, Makam Ratoh Ibu dan tempattempat lainnya.

3159108272_a2fe373bf3

Kemajuan sebuah kota sangat dipengaruhi oleh pribadi-pribadi yang mendiaminya. Seperti di Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya. Semakin multi etnis multi budaya, beragam keunikan dan keahlian menjadikan sebuah kota menjadi lebih hidup dan dinamis. Tidak ada yang merasa menjadi tuan rumah dan mengganggap kota ini adalah warisan leluhurnya, dan orang lain hanya numpang.

Semakin beragamnya penghuni kota juga menciptakan suatu iklim kompetisi yang sehat diberbagai bidang. Hanya yang cerdas, dan mau bekerja keras lah yang akan berhasil. Tidak berlagak seperti preman yang memalaki pendatang sedangkan human resourchesnya sendiri paspasan. Tapi ternyata masih ada juga kota yang menjalankan kehidupannya seperti perusahaan keluarga. Bapak disini, kakak dan adik kerja di kantor sebelah paman jadi konsultan, sepupu kontraktor, adik ipar jadi pengawasnya. Belum lagi di birokrasi yang menyangkut jabatan. Hanya saudara, family, orang dekat, atau paling tidak orang luar yang sudah jadi menantu yang akan cepat terorbit. Hanya satu bahasa yang bisa diterima untuk menembus lingkaran itu. UANG. Kata benda yang mampu membuat orang lain jadi saudara atau saudara jadi orang lain.

Berharap kota ini lebih maju atau semakin banyak orangorang berpotensi mencari wadahnya yang lebih kondusif mengapresiasi perbedaan.

3366918939_f2406a8411

Kategori

 

Desember 2009
S S R K J S M
« Okt    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Statistik Blog

  • 2,440

Arsiiiiip